Kutub Utara dan Selatan Bergeser

Setiap kurang lebih 200 ribu tahun sekali, kedua kutub planet Bumi, utara dan selatan saling bergeser. Umumnya, pergeseran kedua kutub itu membutuhkan waktu ribuan tahun.

Scott Bogue, geolog dari Occidental College dan Jonathan Glen, peneliti dari US Geological Survey (USGS) yang mengamati lava di kawasan Nevada yang telah berusia 15 juta tahun.

Hasilnya, dari penelitian, mereka menemukan bahwa kutub planet Bumi pernah bergeser beberapa kali lipat lebih cepat dibanding kecepatan normal. Setidaknya satu kali.

“Saat lava mendingin, ia menyimpan catatan medan magnet Bumi,” kata Bogue, seperti dikutip dari Discovermagazine, 23 Desember 2010. “Setelah mengamati lava yang mengalami pendinginan selama 2 tahun berturut-turut, diketahui bahwa lava di kawasan itu bergeser 53 derajat dari timur ke arah utara dengan kecepatan 1 derajat setiap minggu,” ucapnya.

Awalnya, keduanya mengira ada kesalahan dalam penelitian mereka. Namun pengujian lebih mendetail mengonfirmasikan pola pergeseran tersebut. Bukti lain terjadinya pergeseran kutub terekam oleh lava yang ada di Oregon, yang telah diteliti di tahun 1985 lalu.

Catatan geologi dari medan magnet Bumi juga umumnya mengindikasikan bahwa medan magnet utara-selatan itu bergeser satu kali setiap sekitar 200 ribu tahun. Pergeseran terjadi secara lambat dan membutuhkan 4 ribu tahun untuk selesai.

Meski para ilmuwan belum memastikan apa yang membuat bergesernya kedua kutub, besi cair panas yang mampu menghantarkan listrik yang mengalir di perut bumi diperkirakan menjadi penyebabnya. Apalagi zat ini jugalah yang menimbulkan medan magnet yang ada di kutub Bumi.

Temuan ini diperkirakan akan memicu gelombang perdebatan baru. Sejumlah geolog berpendapat bahwa saat ini medan magnet juga sedang menjalani pergeseran.

Seperti dilaporkan Science News, medan magnet planet Bumi semakin melemah selama abad terakhir. Meski demikian, pergeseran medan magnet tersebut tidak akan terlalu banyak mempengaruhi kehidupan manusia.

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/195491-kutub-utara-dan-selatan-bumi-bergeser

Advertisements

Gerhana Bulan Malam ini

Masyarakat di sejumlah tempat di muka Bumi bisa menyaksikan gerhana bulan total pada awal pekan ini. Peristiwa itu akan berlangsung selama beberapa jam mulai dari 20 Desember tengah malam hingga 21 Desember dini hari.

Bila cuaca cerah, gerhana bulan itu akan menyuguhkan pemandangan yang indah, seperti yang terjadi di Jerman pada Januari 2001. Menurut laman Space.com, peristiwa yang jarang terjadi ini akan bisa disaksikan langsung di sejumlah wilayah.

Sejumlah wilayah itu di antaranya di semua tempat Amerika bagian Utara dan Selatan, begitu pula di Eropa bagian utara dan barat serta di sebagian wilayah di Asia Timur Laut, termasuk Korea dan Jepang. Gerhana bulan total juga bisa terlihat di North Island, Selandia Baru, dan Hawaii. Maka, peristiwa ini berpotensi disaksikan sekitar 1,5 miliar orang.

“Ini bakal menjadi peluang pertama dari banyak tempat di Bumi untuk menyaksikan bagaimana bulan menjalani gerhana total dalam jangka waktu 34 bulan,” demikian tulis Space.com.

Menurut sejumlah referensi, gerhana bulan terjadi saat sebagian atau keseluruhan penampang bulan tertutup oleh bayangan bumi. Peristiwa itu terjadi bila bumi berada di antara matahari dan bulan pada satu garis lurus yang sama, sehingga sinar matahari tidak dapat mencapai bulan karena terhalangi oleh bumi.

Gerhana bulan total ini diperkirakan mulai bisa dilihat pada 20 Desember malam pukul 22.15 waktu Pasifik (PST) atau pada 21 Desember dini hari pukul 1.33 waktu Pantai Timur Amerika (EST) atau pukul 6.33 waktu Universal (UT).

Menurut perhitungan Badan Antariksa AS (NASA), proses gerhana ini bisa berlangsung sekitar 3 jam dan 28 menit saat Bulan memasuki umbra, yaitu bayangan inti yang berada di bagian tengah sangat gelap pada saat terjadi gerhana bulan.

Fase gerhana bulan secara total akan berlangsung 72 menit, dimulai pada Selasa pagi, 21 Desember 2010, pukul 6.33 UT atau 2.41 EST, yang sama dengan pukul 23.41 PST pada 20 Desember malam.

Bulan selanjutnya melewati umbra Bumi pada pukul 10.01 UT atau 5.01 EST (2.01 PST). Tanda-tanda terakhir bayangan gerhana (penumbra) akan menghilang sekitar 15 atau 20 menit kemudian.

Menurut kalangan pakar, gerhana bulan sebelumnya berlangsung antara 20 Februari hingga 21 Februari 2008 dan bisa terlihat jelas di banyak wilayah di Amerika, Eropa, Afrika, dan Asia bagian barat.

Namun, tahun, diperkirakan terjadi dua kali gerhana bulan. Pertama pada 15 Juni 2011, yang bisa terlihat di kawasan Timur Bumi dan bisa berlangsung satu jam 40 menit. Gerhana kedua pada tahun depan akan berlangsung pada 10 Desember, bisa terlihat di sebagian kawasan barat di Amerika Utara.

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/194636-pemandangan-indah-gerhana-bulan

Atmosfir Pluto Terbalik Dibanding Bumi

Pluto, planet terjauh dari sistem tata surya kita memiliki atmosfir yang unik. Dibandingkan dengan milik Bumi, atmosfir di Pluto terbalik. Semakin tinggi, suhunya semakin tinggi, bukannya semakin rendah.

Dari pengukuran yang dilakukan oleh astronom, menggunakan Very Large Telescope milik European Southern Observatory, diketahui bahwa metana merupakan gas kedua paling banyak yang ada di atmosfirnya. Gas itu juga lebih panas di tempat yang lebih tinggi dibanding di permukaan planet.

Efek sampingnya, atmosfir bagian atas Pluto memiliki suhu sekitar 50 derajat Celcius. Lebih hangat dibandingkan dengan suhu di permukaan Pluto yang mencapai 230 derajat Celcius di bawah 0.

Menurut spekulasi Emmanuel Lellouch, ketua tim peneliti dari Paris Observatory, Prancis, di permukaan Pluto terdapat lapisan tipis beku dari metana dan gas-gas lain.

“Saat orbit Pluto sedang dekat dengan Matahari, gas beku itu menguap,” kata Lellocuh, seperti dikutip dari National Geographic, 17 Desember 2010. “Proses ini, disebut juga dengan sublimasi, mendinginkan permukaan Pluto sekaligus menghangatkan atmosfirnya,” ucapnya.

Menurut Leslie Young, Deputy Project Scientist for NASA, penemuan itu memberi petunjuk terhadap observasi lebih lanjut yang akan dilakukan satelit New Horizons.

“Kita tahu bahwa Pluto mengalami perubahan saat ia mengelilingi Matahari,” ucap Young. “Mengombinasikan hasil temuan observasi di bumi dengan data yang akan dikumpulkan New Horizons akan memberikan petunjuk jelas seputar perilaku planet kerdil tersebut,” ucapnya.

Sebagai informasi, satelit New Horizons yang diluncurkan pada 19 Januari 2006 diperkirakan akan tiba di orbit Pluto pada 14 Juli 2015 mendatang.

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/194405-atmosfir-pluto-terbalik

Voyager Mendekati Limit Tata Surya

Satelit yang paling jauh dari bumi, Voyager 1 saat ini telah menempuh perjalanan yang begitu panjang. Setelah 33 tahun melayang di luar angkasa, dilaporkan Voyager 1 telah mendekati pinggiran dari sistem tata surya kita.

Badan penerbangan dan antariksa AS NASA mengumumkan setelah menempuh sekitar 11 miliar mil (sekitar 17,4 miliar km) dari matahari, kini Voyager 1 hampir melampaui jarak antar bintang.

Kini satelit yang diluncurkan sejak 5 September 1977 telah mencapai suatu tempat di sistem tata surya kita, di mana tidak ada angin surya (partikel bermuatan yang mengalir dari matahari).

Seperti dikutip dari BBC, peneliti proyek Voyager Edward Stone mengatakan bahwa satelit ini diluncurkan ketika era antariksa baru berumur 20 tahun. “Jadi saat itu masih belum diketahui bahwa pesawat luar angkasa itu bisa bertahan begitu lama,” kata Stone.

Saat itu manusia sama sekali tidak mengetahui berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk keluar dari sistem tata surya kita. Tapi, sekarang para ilmuwan memperkirakan bahwa Voyager 1 akan melampaui tata surya sekitar lima tahun lagi.

Sebenarnya, tujuan awal dari Voyager adalah untuk meneliti planet-planet luar seperti Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Tugas itupun telah dituntaskan oleh Voyager pada 1989. Tapi kemudian NASA mengutus Voyager 1 untuk terus mengarungi angkasa luar menuju pusat galaksi Bima Sakti.

Dibekali dengan paket tenaga radioaktif, instrumen milik Voyager masih terus berfungsi dengan baik dan terus mengirimkan datanya ke bumi. Dengan jarak miliaran km, pesan radio dari instrumen Voyager membutuhkan waktu sekitar 16 jam untuk sampai ke bumi.

Menurut Stone, instrumen Voyager yang memonitor angin surya di lokasi tersebut menangkap fenomena yang lain dari biasanya. Pada sistem tata surya kita terdapat wilayah heliosfer di mana, angin surya memancar dengan kecepatan supersonik.

Namun, setelah angin surya melampaui daerah bernama termination shock, kecepatannya akan melambat secara dramatis. Nah Voyager telah mencapai kondisi di mana kecepatan angin surya melambat hingga hampir nol.

Voyager masih terus mengarah ke daerah yang bernama heliopause, di mana secara ‘resmi’ merupakan daerah perbatasan antara tata surya kita dengan sistem surya lain. “Saat Voyager melewatinya, maka ia akan berada di ruang antarbintang.

Voyager terus bergerak ke arah heliopause dengan kecepatan 17 km per detik. “Itulah Voyager, pesawat luar angkasa yang telah bekerja selama 33 tahun, ia masih menunjukkan kepada kita hal lain yang benar-benar baru,” kata Rob Decker, Voyager Low-Energy Charged Particle Instrument co-investigator.

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/193779-satelit-voyager-dekati-batas-tata-surya

Ada Planet Bertabur Berlian???

Joseph Harrington, astronom dan profesor dari University of Central Florida, Amerika Serikat, dan timnya menemukan bahwa terdapat lebih banyak karbon dibanding oksigen pada atmosfir planet WASP-12b. Planet itu berjarak 1.200 tahun cahaya dari Bumi.

Temuan ini mengindikasikan bahwa bebatuan yang ada di seluruh planet itu terdiri dari karbon murni, dalam bentuk berlian atau grafit. Meski belum bisa dipastikan, tetapi planet yang sangat kaya akan karbon itu kemungkinan juga memiliki inti berlian dalam jumlah besar.

“Secara umum, planet biasanya memiliki jumlah oksigen yang sangat banyak yang membuat bebatuan seperti kuarsa dan gas seperti karbon dioksida bisa tersedia dalam kuantitas besar,” kata Harrington.

Tetapi, kata Harrington, jika karbon lebih banyak dibanding oksigen, maka akan banyak batu-batuan yang terdiri dari karbon murni seperti berlian dan grafit. Selain itu akan ada banyak gas metana.

Tim peneliti melakukan analisa kimia berdasarkan teleskop ruang angkasa Spitzer milik NASA. Mereka membandingkan perilaku inframerah gas-gas yang ada untuk menentukan komposisi atmosfir planet yang bersangkutan.

Meski karbon merupakan salah satu elemen penting yang membentuk kehidupan, WASP-12b tampaknya tidak dapat dihuni oleh makhluk hidup.

“Jaraknya terlalu dekat dengan mataharinya, dan setahun planet itu hanya berlangsung selama 26 jam saja,” kata Harrington. “Temperatur di siang hari pada planet yang diperkirakan bertaburan berlian itu juga sangat panas, mencapai sekitar 2.600 derajat Celcius. Planet itu juga rusak akibat besarnya gaya gravitasi dari mataharinya itu,” ucap Harrington.

Sebagai informasi, WASP-12b pertamakali ditemukan oleh konsorsium Wide Angle Search for Planets asal Inggris pada tahun 2009 lalu.

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/193088-peneliti-temukan-planet-bertabur-berlian

Idul Adha 1431 H

Selamat Hari Raya Idul Adha bagi umat muslim di seluruh dunia

Mohon maaf lahir dan batin

Oh ya, ngomong-ngomong tentang Idul Adha, khusus tahun ini 2010 M/1431 H di Indonesia, ada yang agak beda dari perayaan Idul Adha sekarang. Yaitu perbedaan perayaan Idul Adha sendiri. Sebagian umat muslim sudah ada yang menunaikan shalat Idul Adha kemaren (16/11). Namun, ada juga yang melakukannya sesuai dengan kalender dan keputusan pemerintah, yaitu hari ini, 17 November. Apa yang menyebabkan perbedaan ini terjadi???

Di Indonesia dikenal ada 2 kriteria umum yang digunakan oleh ormas-ormas Islam dan Badan Hisab Rukyat (BHR, terdiri dari wakil ormas dan pakar astronomi dan hisab-rukyat) sebagai perangkat Kementerian Agama. Pertama, kriteria wujudul hilal yang dianut Muhammadiyah. Menurut kriteria itu awal bulan ditandai dengan posisi bulan telah berada di atas ufuk pada saat maghrib atau bulan lebih lambat terbenam daripada matahari. Kedua, kriteria imkanurrukyat, kemungkinan bisa dirukyat yang dianut Persis dan NU (dalam hisabnya) serta BHR. Di Indonesia digunakan kesepakatan kriteria tinggi bulan minimal untuk bisa dirukyat adalah 2 derajat (walau secara astronomi dianggap terlalu rendah).

Tinggi bulan di Indonesia yang sudah di atas ufuk tetapi umumnya kurang dari 2 derajat berpotensi menimbulkan perbedaan penetapan awal Dzulhijjah 1431, sehingga Idul Adha di Indonesia berpotensi terjadi perbedaan. Berdasarkan kriteria wujudul hilal, hilal yang telah wujud pada 6 November menjadi dasar penetapan awal Dzulhijjah pada 7 November dan Idul Adha bertepatan 16 November 2010. Tetapi bila menggunakan kriteria imkanur rukyat (kemungkinan hilal dirukyat), hilal yang masih sangat rendah itu tidak mungkin bisa dirukyat sehingga awal Dzulhijjah sangat mungkin pada 8 November dan Idul Adha bertepatan dengan 17 November 2010.

Nah, itulah penyebab kenapa di Indonesia terjadi perbedaan perayaan Hari Raya Idul Adha. Semoga postingan ini bermanfaat untuk pembaca semua…… ^^

Sumber

http://dunia.pelajar-islam.or.id/dunia.pii/209/potensi-perbedaan-idul-adha-14312010.html

Kiamat 2012 = Salah Itung

Tahun 2012 pernah jadi sangat penting dan membuat ketar-ketir gara -gara muncul film Hollywood bertema kiamat, ‘2012’.

Film besutan sutradara Roland Emmerich itu memanfaatkan mitos akhir penanggalan Bangsa Maya, 21 Desember 2012, sebagai hari kehancuran dunia.

Saat ini, tahun 2012 kembali disebut-sebut gara-gara terbit buku berjudul  “Calendars and Years II: Astronomy and Time in the Ancient and Medieval World” (Kalender dan Tahun II: Astronomi dan Waktu di Dunia Kuno dan Abad Pertengahan) terbitan tahun 2010.

Namun, jangankan soal kebenaran ramalan kiamat. Buku itu malah mengungkap perhitungan akhir kalender ‘Long Count’ Maya diduga kuat tidak akurat. Selisihnya bisa 50 sampai 60 tahun.

Bagaimana bisa?

Isu besarnya, saat meneliti kalender kuno, arkeolog berusaha mengkorelasikan frame waktu mereka dengan kalender modern (Gregorian).

Misalnya, momentum-momentum penting Bangsa Maya seperti kelaparan perang, perayaan agama — diterjemahkan dalam format hari/bulan/ tahun masa kini.

Para ahli Maya berusaha menemukan momentum penting yang bisa menghubungkan kelender ‘Long Count’ dengan Gregorian.

Untuk itu, para ilmuwan Maya menggunakan faktor korelasi yang dinamakan ‘Konstanta GMT’. Inisial GMT didapatkan dari nama penemunya —  Joseph Goodman, Juan Martinez-Hernandez, dan J. Eric S. Thompson.

Adalah profesor Gerardo Aldana dari University of California, Santa Barbara yang mempertanyakan validitas korelasi — berdasarkan adanya miskorelasi peristiwa astronomi di masa lalu.

Aldana menuliskan hal itu dalam bab khusus di buku “Calendars and Years II: Astronomy and Time in the Ancient and Medieval World”

Kata dia, Bangsa Maya adalah astronom yang canggih di jamannya. Mereka juga teliti merekam kejadian di langit saat malam hari.

Bangsa Maya mendokumentasikan fase Bulan, gerhana, dan bahkan melacak pergerakan Planet Venus. Catatan mereka memungkinkan mereka untuk memperkirakan siklus astronomi masa depan dengan akurasi besar.

Menurut Aldana, meski GMT menggunakan sumber bukti astronomi, arkeologi, sejarah untuk mengkorelasikan ‘Long Count’ dengan kalender modern, ada keraguan ketika bukti-bukti itu ditafsirkan dari artefak Maya kuno dan teks kolonial.

Misalnya, peristiwa penting, tanggal pertempuran yang ditetapkan penguasa Dos pilas (situs Maya di Guatemala). Penguasa Balaj Chan K’awiil memilih tanggal ini berdasarkan penampakan ‘Chak Ek’.

Oleh arkeolog Stockholm University, Johan Normark, ‘Chak Ek’ diartikan sebagai Venus. Namun, Aldana dalam studinya menentang hal itu. Kata dia, ‘Chak Ek’ adalah meteor.

Bayangkan, jika kejadian dikorelasikan dengan Venus tapi sejatinya itu berkaitan dengan peristiwa acak seperti halnya penampakan meteorit? Jelas hasil dari menghubung-hubungkan waktu dalam kalender Maya dengan kalender modern acak-acakan dan pasti selisih.

Dalam tulisannya, Aldana menyajikan beberapa alasan mengapa konstanta GMT tak bisa diandalkan. Dia bukan orang pertama yang meragukannya.

Namun, penelitian lebih lanjut seperti penentuan waktu dengan  radiokarbon perlu dilakukan untuk mendukung dalilnya. Jadi, masih percaya kiamat bakal terjadi 2012?

Dikutip dari

http://teknologi.vivanews.com/news/read/183819-salah-hitung—kiamat–bangsa-maya-bukan-2012

Laba-Laba Membuat Sarangnya di Gravitasi Nol

Sungguh mencengangkan laba-laba yang dikirim ke stasiun antariksa internasional (ISS) sukses membuat sarang. Keberhasilan ini menarik untuk dipelajari karena hewan tersebut melakukannya di ruang tanpa bobot (a.k.a. Gravitasi=0).

“Dua ekor laba-laba yang pemberani di stasiun antariksa internasional telah berhasil mengatasi kebingungannya sampai dapat menenun jaring yang menakjubkan di gravitasi nol,” ujar salah seorang astronot.
Laba-laba penenun itu diangkut ke ISS awal minggu lalu bersama para astronot yang menumpang pesawat ulang alik Endeavour. Saat sehari di ruang angkasa, laba-laba tersebut terlihat membuat pola jaring yang tidak jelas. Namun, beberapa hari kemudian laba-laba tersebut berhasil membuat jaring yang teratur.

“Kami perhatikan laba-laba tersebut membuat jaring yang simetris. Sungguh cantik,” ujar Michael Fincke, komandan ISS. Ia mengatakan para astronot terkejut melihat betapa cepatnya laba-laba beradaptasi dengan antariksa.

Pengiriman laba-laba ke ruang angkasa merupakan bagian dari eksperimen ilmiah yang ditujukan untuk meningkatkan minat anak-anak sekolah mempelajari sains. Apalagi jenis laba-laba yang dipilih sama dengan laba-laba yang dipakai sebagai karakter di buku cerita anak Charlotte’s Web karya E.B. White. Anak-anak nantinya akan diminta membandingkan antara bentuk jaring laba-laba yang dibuat di Bumi dengan yang dibuat di antariksa.

Selain laba-laba, para astronot juga membawa larva kupu-kupu. Ilmuwan dari UNiversitas Colorado, Boulder, AS akan memantau perkembangannya hingga kelak menjadi kupu-kupu dewasa.  Sebagai makanan laba-laba, turut dibawa pula lalat buah. Sementara untuk makan kupu-kupu yang tengah bermetamorfosis sudah disediakan nektar secukupnya.

Sumber

http://asalkamutahuaja.blogspot.com/2010/10/laba-laba-sukses-membuat-sarang-di.html

Uji Coba Pesawat Wisata Luar Angkasa Sukses

Hore… wisata murah ke antariksa tak lama lagi bakal terwujud. Untuk pertama kalinya, Virgin Galactic, perusahaan wisata antariksa yang didirikan pengusaha Inggris, Sir Richard Branson, sukses melakukan uji coba penerbangan SpaceShipTwo, pesawat wisata antariksa yang akan digunakan.

Pada percobaan-percobaan sebelumnya, SpaceShipTwo masih menempel ke badan pesawat induknya yang bernama WhiteKnightTwo. Namun, pada uji penerbangan yang dilakukan pada Minggu (10/10/2010) akhir pekan lalu, pesawat ini terbang solo di atas Gurun Mojave, California, AS. Pesawat induk membawa SpaceShipTwo lalu melepaskannya pada ketinggian 45.000 kaki (sekitar 13,7 km). Begitu melepaskan diri, pesawat tersebut melesat selama 11 menit sebelum mendarat.

Meski demikian, bukan berarti pesawat tersebut siap digunakan untuk penerbangan ke batas luar angkasa. SpaceShipTwo harus menjalani uji coba sampai sanggup terbang hingga ketinggian di atas 100 kilometer yang merupakan batas pengaruh gravitasi Bumi. Pesawat tersebut juga harus melakukan uji beban karena didesain untuk diisi enam penumpang.

“Masih banyak target yang harus dicapai agar upaya menyediakan wisata antariksa komersial menjadi kenyataan. Ini merupakan langkah yang sangat besar. Kami sekarang tahu bahwa pesawat antariksa bisa meluncur. Kami tahu ia bisa lepas dengan aman dari pesawat induknya dan kami tahu ia dapat mendarat dengan aman. Itu tiga langkah besar,” ujar Sir Richard Branson.

SpaceShipTwo akan melakukan rangkaian peluncuran sebelum uji coba melesat hingga batas antariksa. Menurut Branson, tahap paling penting berikutnya adalah tes kemampuan roketnya. Percobaan roket di darat sudah dilakukan ribuan kali. Namun, uji coba itu belum pernah dilakukan saat pesawat mengudara. Pesawat ini merupakan rancangan Burt Rutan dari hasil pengembangan pesawat SpaceShipOne yang menang dalam kompetisi bergengsi berhadiah 10 juta dollar AS Ansari X Prize yang ditujukan untuk mewujudkan perusahaan roket swasta ke luar angkasa.

Meski tahap komersialisasi masih butuh waktu, wisata luar angkasa yang ditawarkan Virgin Galactic laku keras. Sebanyak 370 orang telah mendaftar dan telah membayar uang muka total mencapai 50 juta dollar AS. Ongkos yang ditawarkan Virgin Galactic untuk wisata ini sebesar 200.000 dollar AS per orang atau jauh lebih murah daripada wisata dengan pesawat ulang alik yang mencapai 30 juta dollar AS per orang. Namun, jangan harap menikmati wisata beberapa hari di luar angkasa. Dengan SpaceShipTwo, turis memang hanya dibawa ke ambang batas gravitasi dan menikmati dunia tanpa bobot selama beberapa saat sebelum akhirnya mendarat kembali.

Dikutip dari

http://sains.kompas.com/read/2010/10/12/11532035/Sukses.Uji.Coba.Pesawat.Wisata.Antariksa

Asteroid Seukuran Bus Lintasi Langit Indonesia

Asteroid dengan nama 2010 TD54 ternyata sempat melintasi langit Indonesia malam kemarin. Namun tidak ada dampak apapun terhadap bumi.

“Asteroid itu melintas langit Indonesia pada Rabu, 12 Oktober 2010, malam sekira pukul 19.50 WIB, dengan ketinggian 45.000 kilometer,” ujar Profesor Riset Astronomi dan Astrofisika Lembaga Antariksa dan Penerbagan (LAPAN), Thomas Djamaluddin, saat dihubungi okezone, Kamis (14/10/2010).

Menurut Thomas, semua orang di seluruh wilayah Indonesia diperkirakan bisa melihat asteroid tersebut melintas, namun syaratnya harus berada di wilayah dengan kondisi langut yang cerah dan bersih, dan juga harus memakai teleskop.

“Asteroid 2010 TD54 hanya melintasi langit Indonesia, tidak memasuki atmosfir langit di wilayah Indonesia, jadi tidak ada dampak apapun. Seandainya asteroid itu masuk ke atmosfir dan jatuh ke Bumi pun, wilayah lokasi yang akan terkena tubrukannya belum bisa diperkirakan karena membutuhkan penelitian yang lebih lanjut,” papar Profesor Thomas.

Dijelaskan Profesor Thomas, asteroid tersebut berukuran sebesar bus besar, atau sekira lima hingga 10 meter panjangnya.

Asteroid itu pertama kali terdeteksi pada Sabtu, 9 oktober 2010, oleh teleskop pemantau langit Catalina yang operasikan NASA. Sistem otomatiknya segera menyimpulkan lintasan orbit dan perkiraan ukurannya. Asteroid 2010 TD54 melintas bumi sangat cepat (sekitar 63.000 km/jam) pada ketinggian 45.500 km, sedikit di atas orbit satelit-satelit komunikasi yang berada pada ketinggian 36.000 km.

Dikutip dari

http://techno.okezone.com/read/2010/10/14/56/382634/asteroid-seukuran-bus-lintasi-langit-indonesia